Terjadinya Gunung Berapi

Suka naik gunung kurang afdol jika tidak paham proses terbentuknya. Oleh karena di Indonesia kebanyakan terdapat gunung berapi, maka artikel kali ini akan membahas terbentuknya gunung jenis tersebut.
Gunung berapi masih dibagi lagi menjadi beberapa jenis. Menurut bentuknya: Strato, Maar, Perisai. Menurut catatan letusan: Tipe A, Tipe B, Tipe C. Menurut tipe letusan: Stromboli, Hawaii, Volkano lemah, Volkano kuat, Merapi, Pelee, St. Vincent. Untuk tipe-tipe tersebut akan dibahas di artikel terpisah.
Kebali ke topik utama, gunung berapi awalnya terbentuk dari gerakan lempeng Konvergen atau saling bertabrakan. Salah satu lempeng menghujam ke bawah, dan satu lainnya ke atas. Tabrakan akan menyebabkan rekahan-rekahan pada lempeng. Nah, rekahan-rekahan itu yang menjadi jalan magma menuju ke permukaan kerak bumi oleh karena tekanan di permukaan lebih rendah. Magma yang keluar tersebut selanjutnya membeku dan menjadi batu sehingga terbentuklah sebuah gunung. Keluarnya magma bisa terjadi bukan hanya sekali, dan bisa berkali-kali sebagai letusan gunung.
Secara teori memang singkat, namun pada proses sebenarnya bisa ribuan tahun. Gunung yang masih aktif berpotensi mengeluarkan magma kembali (meletus). Sedang gunung yang tidak aktif sulit untuk ditentukan, apakah masih istirahat atau memang telah mati. Karena gunung dapat istirahat selama 600 tahun sebelum akhirnya meletus kembali.

Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca berkaitan dengan pemanasan global maupun perubahan iklim. Efek rumah kaca sebenarnya adalah sebuah proses terperangkapnya panas di atmosfer sebuah planet. Jadi bukan hanya bumi yang mengalami, tapi juga sebenarnya planet lain.
Tapi karena kita tinggal di bumi, maka pembahasan saya fokuskan ke planet bumi.
Beberapa orang awam mengartikan efek rumah kaca sebagai efek dari banyaknya rumah yang terbuat dari kaca dan menyebabkan pemanasan global. Agak lucu sebenarnya karena definisi tersebut kurang tepat kalau tidak boleh dibilang salah.

Seperti saya sebutkan di atas, bahwa efek rumah kaca adalah sebuah proses terperangkapnya panas (dari matahari) di atmosfer yang disebabkan oleh Gas Rumah Kaca (GRK). Panas matahari yang diterima bumi sebagian diserap oleh bumi, sebagian lagi dipantulkan. Nah, panas yang dipantulkan tadi sebagian lepas ke angkasa, dan sebagian lagi terperangkap di atmosfer. panas yang terperangkap di atmosfer itulah yang menyebabkan bumi lebih hangat.
Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar ilustrasi di bawah.

(sumber: pakmono.com)
Gas rumah kaca (CO2, CH4, N2O, dll) dalam jumlah normal (alami) sangat bermanfaat untuk kehidupan di bumi, yaitu sebagai penyeimbang suhu bumi. Tanpa gas rumah kaca, bagian bumi yang tidak terkena sinar matahari atau saat malam hari akan sangat dingin.
Namun akhir-akhir ini kita merasakan panas yang berlebih. Suhu bumi meningkat. Jika boleh menunjuk, kita dapat menyalahkan manusia sendiri. Aktivitas manusia berkontribusi terhadap meningkatnya gas rumah kaca. Penggundulan hutan disertai pembakaran, asap pabrik, asap kendaraan merupakan contoh aktivitas penambah jumlah gas rumah kaca.

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme